Karo, 5 September 2026 – Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi perhatian setelah statusnya dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Peningkatan status tersebut dilakukan menyusul erupsi yang terjadi pada Senin, 31 Agustus 2026, serta hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan. Dampaknya, ratusan warga yang tinggal di kawasan rawan mulai meninggalkan rumah untuk menuju lokasi pengungsian yang telah dipersiapkan pemerintah. Sebanyak 211 keluarga atau sekitar 615 jiwa dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, tercatat telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah daerah bersama berbagai unsur penanggulangan bencana kini meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan perubahan aktivitas Sinabung dalam beberapa waktu mendatang.
Erupsi yang menjadi awal peningkatan kewaspadaan terjadi sekitar pukul 12.00 WIB pada 31 Agustus. Gunung Sinabung ketika itu mengeluarkan kolom erupsi yang teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak atau kurang lebih 5.960 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik dari erupsi tersebut cenderung bergerak ke arah timur-tenggara dan berpotensi memengaruhi sejumlah kawasan di sekitar gunung, termasuk menuju wilayah Berastagi. Setelah mengevaluasi perkembangan tersebut, tingkat aktivitas Sinabung dinaikkan menjadi Level III atau Siaga mulai pukul 12.30 WIB pada hari yang sama. Peningkatan status membuat pembatasan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan rawan juga diperketat.
Desa Kuta Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian karena berada di kawasan yang berpotensi terdampak aktivitas gunung api. Warga dari desa tersebut diarahkan menuju Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Pemerintah menyiapkan tempat penampungan untuk memastikan masyarakat dapat meninggalkan kawasan berbahaya tanpa harus menunggu aktivitas Sinabung berkembang lebih besar. Pendataan terhadap pengungsi juga dilakukan untuk mengetahui kebutuhan logistik, kesehatan, makanan, air bersih, dan fasilitas lainnya selama berada di lokasi penampungan. Kondisi pengungsi terus dipantau karena lama waktu mereka berada di tempat pengungsian akan sangat bergantung pada perkembangan aktivitas vulkanik.
Selain Desa Kuta Tengah, perhatian juga diarahkan kepada masyarakat Desa Payung di Kecamatan Payung serta Desa Ndokum Siroga di Kecamatan Simpang Empat. Pemerintah Kabupaten Karo telah mempersiapkan skenario evakuasi untuk warga Desa Payung dengan lokasi penampungan di Losd Desa Batukarang apabila perpindahan masyarakat harus dilakukan. Pos terpadu juga disiapkan di Kantor Koramil Simpang Empat, sedangkan sejumlah pos tambahan ditempatkan untuk mendukung penanganan warga di wilayah rawan. Kesiapan tersebut diperlukan agar proses evakuasi dapat berlangsung cepat apabila aktivitas gunung mengalami peningkatan mendadak. Pemerintah meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dan tidak menunda evakuasi apabila petugas sudah memberikan instruksi.
Zona bahaya Gunung Sinabung juga menjadi perhatian setelah peningkatan status tersebut. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang sebelumnya telah direlokasi serta tidak memasuki radius tiga kilometer dari puncak gunung. Selain itu, pembatasan berlaku hingga radius sektoral enam kilometer ke arah selatan-tenggara atau selatan-timur sesuai perkembangan rekomendasi kawasan rawan. Pembatasan tersebut ditetapkan karena aktivitas vulkanik masih memiliki kemungkinan berkembang dan erupsi yang terjadi pada akhir Agustus dinilai belum dapat dianggap sebagai akhir rangkaian aktivitas. Kepatuhan masyarakat terhadap zona bahaya menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko korban apabila terjadi erupsi berikutnya.
Abu vulkanik menjadi salah satu dampak yang langsung dirasakan masyarakat setelah erupsi. Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, petugas telah membagikan masker kepada warga di sejumlah kawasan yang terkena sebaran abu. Masyarakat diminta menggunakan pelindung pernapasan ketika berada di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi abu cukup tinggi. Paparan material vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan serta menimbulkan keluhan pada mata dan kulit apabila terjadi dalam intensitas tinggi. Karena itu, masyarakat di sekitar Sinabung juga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika abu masih turun dan mengikuti petunjuk kesehatan dari petugas.
Ancaman lain yang tetap harus diperhatikan adalah potensi lahar pada sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung. Material vulkanik yang terendapkan di lereng dapat terbawa air ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi tersebut dapat menimbulkan aliran lahar yang bergerak mengikuti lembah maupun alur sungai dan membahayakan masyarakat di bagian hilir. Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar aliran sungai karena itu diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika hujan turun di kawasan puncak. Pemerintah juga terus melakukan pemantauan agar peringatan dapat diberikan apabila ditemukan perkembangan yang meningkatkan risiko terhadap permukiman.
Penanganan kondisi Sinabung melibatkan Pemerintah Kabupaten Karo, BPBD, TNI, Polri, petugas pemantauan gunung api, serta berbagai unsur lainnya. Koordinasi dilakukan untuk memastikan kesiapan personel, transportasi evakuasi, lokasi penampungan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar pengungsi. Pemerintah daerah juga terus memperbarui pendataan warga karena kondisi dapat berubah apabila zona yang perlu dikosongkan diperluas. Prioritas utama saat ini adalah memastikan masyarakat yang berada dalam kawasan berbahaya tidak tetap bertahan ketika ancaman meningkat. Pengalaman panjang menghadapi erupsi Sinabung menjadi modal penting bagi pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan prosedur evakuasi dengan lebih terorganisasi.
Pemantauan Gunung Sinabung tetap dilakukan secara intensif untuk mengetahui perkembangan aktivitas setelah peningkatan status menjadi Siaga. Evaluasi tingkat aktivitas dapat dilakukan secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila ditemukan perubahan signifikan pada parameter vulkanik. Status Level III menunjukkan masyarakat harus meningkatkan kesiapsiagaan, tetapi tidak berarti seluruh Kabupaten Karo harus dikosongkan. Evakuasi diprioritaskan terhadap warga yang berada di wilayah yang masuk rekomendasi kawasan berbahaya. Informasi mengenai aktivitas gunung dan perubahan zona bahaya akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan apakah jumlah warga yang perlu mengungsi harus ditambah.
Dengan 615 warga Desa Kuta Tengah telah berada di pengungsian, pemerintah meminta masyarakat di sekitar Gunung Sinabung tetap tenang namun tidak mengurangi kewaspadaan. Warga di kawasan yang masih bersiaga diminta menyiapkan kebutuhan penting agar dapat segera meninggalkan rumah apabila instruksi evakuasi dikeluarkan. Masyarakat juga diingatkan tidak memasuki kawasan terlarang hanya untuk melihat aktivitas gunung karena perubahan kondisi vulkanik dapat berlangsung cepat. Penanganan pengungsi, pemantauan gunung, pembagian masker, serta kesiapan jalur evakuasi akan terus dilakukan selama Sinabung berada pada tingkat aktivitas yang mengharuskan kewaspadaan tinggi. Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama sambil menunggu perkembangan aktivitas Gunung Sinabung dalam beberapa hari mendatang.