Jakarta, 6 September 2026 – Legenda bulu tangkis Indonesia Rexy Mainaky menyimpan kisah emosional di balik kegagalannya bersama Ricky Subagja menjuarai All England 1994. Pada pertandingan final turnamen bergengsi tersebut, Rexy mengaku tidak bermain dengan kesungguhan seperti biasanya karena masih terpukul oleh meninggalnya sang ayah, Jantje Rudolf Mainaky, pada Desember 1993. Kehilangan tersebut terasa semakin berat karena salah satu keinginan terbesar ayahnya adalah melihat anak-anaknya menjadi juara All England. Ketika Rexy akhirnya berhasil mencapai final beberapa bulan setelah kepergian sang ayah, motivasinya justru runtuh karena orang yang ingin ia bahagiakan sudah tidak ada. Rexy bahkan mengaku sebenarnya tidak ingin turun bertanding dalam partai puncak tersebut. Pada akhirnya ia tetap tampil setelah diminta pelatih, tetapi mengakui permainannya saat itu jauh dari kondisi terbaik.
Rexy saat itu berpasangan dengan Ricky Subagja, duet ganda putra yang kemudian dikenal sebagai salah satu pasangan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Pada final All England 1994, Ricky/Rexy berhadapan dengan sesama pasangan Indonesia, Rudy Gunawan/Bambang Suprianto. Kondisi tersebut turut memengaruhi cara Rexy memandang pertandingan karena siapa pun yang menang, gelar All England tetap dipastikan menjadi milik Indonesia. Dalam penuturannya, Rexy sempat menyampaikan kepada pelatih bahwa dirinya tidak ingin bermain karena Indonesia sudah dipastikan menjadi juara. Namun, pelatih tetap meminta Rexy menjalani pertandingan bersama Ricky. Rexy akhirnya turun ke lapangan, tetapi mengakui dirinya hanya bermain seadanya karena secara emosional belum mampu melepaskan kesedihan setelah kehilangan ayah.
Kisah tersebut tidak dapat dilepaskan dari hubungan keluarga Mainaky dengan bulu tangkis. Rexy berasal dari keluarga yang banyak melahirkan pemain dan pelatih nasional, dengan sejumlah saudara kandungnya juga membangun karier di cabang olahraga tersebut. Nama-nama seperti Richard Mainaky, Marleve Mainaky, Rionny Mainaky, hingga Karel Mainaky pernah dikenal dalam lingkungan bulu tangkis Indonesia. Sang ayah memiliki peran penting dalam perjalanan anak-anaknya mengenal olahraga tepok bulu sejak usia muda. Karena itu, keberhasilan masuk tim nasional dan bertanding di berbagai turnamen internasional memiliki arti tersendiri bagi keluarga tersebut. Rexy pernah mengenang betapa bangganya kedua orang tuanya ketika anak-anak mereka mampu menembus level nasional. Keinginan sang ayah untuk melihat anak-anaknya memenangkan All England kemudian menjadi salah satu kenangan yang terus melekat dalam perjalanan karier Rexy.
Kepergian sang ayah pada Desember 1993 membuat keinginan tersebut belum sempat terwujud ketika Rexy mencapai final All England 1994. Secara kompetitif, kesempatan itu seharusnya menjadi momen besar karena Rexy dan Ricky berada hanya satu pertandingan dari gelar pertama mereka di turnamen tersebut. Namun, bagi Rexy, situasinya justru menghadirkan konflik emosional yang berat. Ia merasa tidak lagi memiliki orang yang paling ingin diperlihatkannya keberhasilan tersebut. Dalam wawancara yang kemudian kembali diperbincangkan, Rexy menggambarkan perasaannya dengan mempertanyakan untuk siapa dirinya menjadi juara apabila sang ayah sudah tidak ada. Pernyataan itu menggambarkan bahwa tekanan yang dihadapinya pada final 1994 bukan semata-mata persoalan teknis maupun persaingan di lapangan. Kesedihan pribadi ternyata memiliki pengaruh besar terhadap motivasinya dalam salah satu pertandingan terpenting sepanjang karier.
Ricky/Rexy akhirnya harus puas menjadi runner-up setelah gelar All England 1994 jatuh kepada Rudy Gunawan/Bambang Suprianto. Hasil tersebut menjadi salah satu kegagalan yang kemudian memiliki cerita berbeda dibandingkan kekalahan biasa dalam sebuah pertandingan olahraga. Rexy sendiri secara terbuka mengakui dirinya tidak mengerahkan kemampuan secara maksimal dalam laga tersebut. Pengakuan itu juga memberikan gambaran mengenai sisi manusiawi seorang atlet elite yang tetap dapat mengalami tekanan emosional sangat berat di tengah tuntutan kompetisi. Kehilangan anggota keluarga terdekat dapat memengaruhi fokus, motivasi, dan kesiapan mental, bahkan ketika seorang atlet berada di puncak karier. Bagi Rexy, final All England 1994 akhirnya menjadi pertandingan yang terus dikenang bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena pengalaman pribadi yang menyertainya.
Namun, perjalanan Rexy dan Ricky tidak berhenti pada kegagalan tersebut. Setahun kemudian, pasangan Indonesia itu kembali ke All England dengan kondisi berbeda dan berhasil merebut gelar pada edisi 1995. Keberhasilan tersebut akhirnya mewujudkan impian yang pernah disampaikan ayah Rexy sebelum meninggal dunia. Ricky/Rexy kemudian membuktikan dominasinya dengan kembali menjadi juara All England pada 1996. Dua gelar beruntun itu menjadi bagian penting dari periode emas mereka sebagai pasangan ganda putra Indonesia. Kegagalan emosional pada 1994 dengan demikian tidak membuat perjalanan keduanya terhenti, tetapi justru diikuti sederet pencapaian besar dalam tahun-tahun berikutnya. All England kemudian menjadi salah satu turnamen yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan Rexy karena menyimpan cerita tentang kehilangan sekaligus keberhasilan.
Prestasi Ricky/Rexy setelah itu semakin lengkap ketika mereka menjadi juara dunia pada 1995. Puncak pencapaian pasangan tersebut datang pada Olimpiade Atlanta 1996 ketika keduanya berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Gelar Olimpiade mengukuhkan Ricky/Rexy sebagai salah satu duet ganda putra paling berprestasi pada generasinya. Mereka juga meraih berbagai gelar penting lainnya sepanjang karier, termasuk dalam sejumlah turnamen internasional besar. Kecepatan, permainan agresif, kemampuan bertahan, serta kekompakan keduanya membuat Ricky/Rexy menjadi pasangan yang sangat diperhitungkan pada era 1990-an. Rentetan prestasi tersebut menunjukkan bagaimana mereka mampu bangkit setelah pengalaman berat yang dialami pada final All England 1994.
Bagi Rexy, keberhasilan pada tahun-tahun berikutnya juga menjadi cara tersendiri untuk meneruskan harapan sang ayah. Meski Jantje tidak sempat menyaksikan secara langsung putranya mengangkat trofi All England, Rexy akhirnya mampu mewujudkan keinginan tersebut dua kali. Cerita itu kemudian menjadi salah satu bagian paling personal dalam perjalanan panjangnya sebagai atlet. Tidak banyak pertandingan yang dikenang seorang pemain karena alasan di luar skor, tetapi final 1994 memiliki makna seperti itu bagi Rexy. Ia harus bertanding ketika kesedihan kehilangan orang tua masih kuat, sementara di sisi lain tuntutan profesional mengharuskannya tetap berada di lapangan. Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak hanya dibentuk latihan dan pertandingan, tetapi juga kondisi pribadi yang dapat memengaruhi performa di momen paling menentukan.
Setelah mengakhiri karier sebagai pemain, Rexy tetap berkecimpung di dunia bulu tangkis melalui jalur kepelatihan. Pengalaman panjangnya sebagai atlet elite kemudian menjadi modal untuk membina pemain dan pasangan ganda di berbagai level. Perjalanan kepelatihannya membawa Rexy bekerja di sejumlah negara dan federasi, termasuk Malaysia, tempat dirinya kini memegang peran penting dalam struktur kepelatihan ganda. Pengalamannya menghadapi kemenangan, kekalahan, tekanan kompetisi, hingga persoalan emosional selama menjadi pemain memberikan perspektif luas dalam menangani atlet. Rexy tidak hanya dikenal karena pencapaiannya bersama Ricky, tetapi juga karena kontribusinya setelah tidak lagi aktif bertanding. Dengan perjalanan tersebut, namanya tetap memiliki pengaruh dalam perkembangan bulu tangkis Asia hingga bertahun-tahun setelah masa kejayaannya di lapangan.
Cerita final All England 1994 pada akhirnya menjadi salah satu kisah paling emosional dalam karier Rexy Mainaky. Kesempatan meraih gelar pertamanya di turnamen tersebut datang hanya beberapa bulan setelah ayahnya meninggal dunia, membuat Rexy kehilangan motivasi untuk bertanding secara maksimal. Ia tetap turun karena diminta pelatih, tetapi mengakui tidak bermain dengan kesungguhan penuh saat menghadapi Rudy Gunawan/Bambang Suprianto. Kekalahan tersebut kemudian dibalas dengan keberhasilan menjuarai All England pada 1995 dan 1996, dilanjutkan gelar juara dunia serta medali emas Olimpiade Atlanta. Rangkaian prestasi itu membuat kisah 1994 tidak menjadi akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses panjang menuju puncak kariernya. Di balik berbagai trofi yang kemudian diraih, tersimpan kenangan tentang sang ayah yang sejak awal berharap melihat anak-anaknya menjadi juara di panggung All England.