Jakarta, 10 Mei 2026 – Memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya di Timur Tengah tidak hanya mengguncang ekonomi global, tetapi juga membawa keuntungan besar bagi sejumlah sektor usaha dan perusahaan internasional. Ketidakpastian geopolitik serta lonjakan harga energi membuat beberapa industri justru mencatat peningkatan laba signifikan.
Salah satu sektor yang paling diuntungkan adalah industri minyak dan gas. Gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut membuat perusahaan energi global seperti BP, Shell, dan TotalEnergies memperoleh lonjakan pendapatan dari perdagangan minyak dan gas.
Selain sektor energi, bank-bank besar dunia juga disebut menikmati keuntungan dari meningkatnya volatilitas pasar keuangan. Ketegangan geopolitik membuat aktivitas perdagangan saham, obligasi, dan komoditas melonjak tajam karena investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bank investasi besar seperti JP Morgan disebut mencatat pendapatan perdagangan yang meningkat drastis selama periode konflik berlangsung.
Industri pertahanan juga menjadi salah satu sektor yang diuntungkan. Meningkatnya tensi militer di Timur Tengah membuat permintaan terhadap perlengkapan militer, sistem pertahanan udara, drone, dan amunisi meningkat di berbagai negara. Banyak perusahaan pertahanan global mendapat tambahan kontrak baru seiring meningkatnya kebutuhan keamanan dan belanja militer.
Di sisi lain, sektor energi terbarukan turut mendapat momentum positif. Kekhawatiran terhadap ketergantungan pada energi fosil membuat banyak negara mulai mempercepat investasi pada energi alternatif seperti tenaga surya dan angin. Beberapa perusahaan energi hijau disebut mengalami kenaikan permintaan dan peningkatan nilai saham di tengah krisis energi global.
Meski sejumlah sektor meraup keuntungan, konflik berkepanjangan tetap membawa dampak besar terhadap ekonomi dunia. Harga energi yang tinggi memicu inflasi, meningkatkan biaya logistik, dan memperbesar tekanan terhadap daya beli masyarakat di banyak negara.
Pengamat ekonomi menilai kondisi ini menunjukkan bahwa setiap konflik geopolitik besar selalu menciptakan dua sisi berbeda: tekanan berat bagi sebagian sektor ekonomi, namun peluang keuntungan besar bagi industri yang berkaitan langsung dengan energi, keuangan, dan pertahanan global.