Bogor, 9 September 2026 – Pemerintah Kota Bogor mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA menjadi 1.824 kasus berdasarkan hasil pemantauan kesehatan per 8 September 2026. Jumlah tersebut meningkat 352 kasus dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.472 kasus atau naik sekitar 24 persen. Peningkatan terjadi ketika Kota Bogor masih meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan masyarakat setelah wilayah tersebut sempat terdampak penurunan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski demikian, Dinas Kesehatan Kota Bogor belum dapat memastikan bahwa kenaikan kasus ISPA tersebut secara langsung disebabkan oleh paparan abu vulkanik. Pemerintah menegaskan hubungan antara keduanya masih membutuhkan kajian medis yang lebih mendalam karena gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor. Pemantauan harian karena itu terus dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi masyarakat sekaligus mendeteksi kemungkinan peningkatan penyakit yang berkaitan dengan kualitas udara.
Dinas Kesehatan Kota Bogor mulai melakukan pemantauan intensif sejak 7 September melalui seluruh puskesmas di wilayah kota. Berdasarkan hasil surveilans, total kasus kesehatan yang masuk dalam sejumlah indikator pemantauan meningkat dari 1.669 pasien pada 7 September menjadi 2.022 pasien pada 8 September. Dengan demikian, terdapat tambahan 353 kasus dalam periode satu hari. ISPA menjadi penyakit yang mengalami peningkatan paling besar, yakni dari 1.472 menjadi 1.824 kasus. Data tersebut menjadi perhatian pemerintah karena saluran pernapasan merupakan salah satu bagian tubuh yang berpotensi mengalami gangguan ketika kualitas udara memburuk. Namun, pemerintah tetap berhati-hati agar peningkatan angka tersebut tidak langsung disimpulkan sebagai dampak abu vulkanik tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena menjelaskan kondisi kesehatan masyarakat dipengaruhi banyak faktor, termasuk perubahan cuaca, daya tahan tubuh, aktivitas sehari-hari, serta kondisi lingkungan. Karena itu, diperlukan analisis lebih jauh untuk mengetahui apakah terdapat hubungan langsung antara peningkatan kasus ISPA dengan abu vulkanik yang sempat terdeteksi di wilayah Bogor. Pemantauan juga dilakukan terhadap perkembangan kasus dari waktu ke waktu sehingga pemerintah dapat membandingkannya dengan kondisi pada periode sebelumnya. Pendekatan tersebut penting untuk membedakan peningkatan yang masih berada dalam pola penyakit musiman dengan perubahan yang benar-benar berkaitan dengan suatu kejadian lingkungan tertentu. Pemerintah tidak ingin menyampaikan kesimpulan yang belum didukung pemeriksaan medis dan epidemiologis yang memadai. Masyarakat tetap diminta waspada tanpa perlu mengalami kepanikan berlebihan.
Selain ISPA, sejumlah gangguan kesehatan lain turut masuk dalam pemantauan Dinas Kesehatan. Kasus asma meningkat dari 25 menjadi 29 kasus, sedangkan dermatitis atau iritasi kulit bertambah dari 70 menjadi 74 kasus. Jumlah kasus konjungtivitis atau iritasi mata tercatat tetap sebanyak 36 kasus. Sementara itu, pneumonia justru mengalami penurunan dari 35 menjadi 30 kasus dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik turun dari 31 menjadi 29 kasus. Perubahan yang berbeda pada masing-masing penyakit tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah membutuhkan pemantauan berkelanjutan sebelum menentukan pola yang terjadi. Data kesehatan harian akan terus diperbarui melalui fasilitas pelayanan kesehatan agar perkembangan kasus dapat diketahui lebih cepat.
Peningkatan kasus ISPA terjadi ketika kualitas udara Kota Bogor justru menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Pemantauan pada Rabu pagi menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada tingkat yang dikategorikan baik, dengan angka sekitar 19,6 mikrogram per meter kubik pada pukul 06.00 WIB dan 20,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WIB. Rata-rata konsentrasi dalam 24 jam berada sekitar 36,72 mikrogram per meter kubik dan kondisi udara dinilai masih dapat diterima untuk aktivitas masyarakat. Perbaikan tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah membuka kembali kegiatan pembelajaran tatap muka mulai 9 September. Sebelumnya, sekolah di Kota Bogor menjalankan pembelajaran jarak jauh selama dua hari pada 7 dan 8 September sebagai langkah antisipasi. Meski kegiatan sekolah telah kembali normal, aktivitas luar ruangan tetap diminta untuk dikurangi apabila tidak terlalu diperlukan.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim telah meninjau langsung kesiapan sekolah setelah kegiatan pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan. Pemerintah meminta sekolah memastikan ruang kelas, halaman, fasilitas umum, dan lingkungan sekitar telah dibersihkan sebelum siswa kembali mengikuti pembelajaran. Penerapan protokol kesehatan juga tetap dianjurkan sebagai bentuk kewaspadaan apabila kondisi udara kembali mengalami penurunan. Sekolah diminta mengurangi intensitas kegiatan di luar ruangan dan memperhatikan siswa yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kualitas udara tidak serta-merta membuat seluruh langkah mitigasi dihentikan. Pemerintah ingin aktivitas masyarakat kembali berjalan normal secara bertahap sambil mempertahankan sistem pemantauan yang telah disiapkan.
Sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat, Pemkot Bogor telah mendistribusikan sekitar 190 ribu masker ke berbagai wilayah dan perangkat daerah. Masker disalurkan melalui puskesmas, kecamatan, kelurahan, Satpol PP, lingkungan Balai Kota, serta sejumlah titik pelayanan masyarakat. Distribusi diprioritaskan untuk mendukung perlindungan kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan kualitas udara, termasuk anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Dinas Kesehatan juga menerbitkan surat edaran kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan pada 8 September mengenai kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak abu vulkanik. Langkah tersebut dilakukan agar fasilitas kesehatan dapat segera meningkatkan kapasitas pelayanan apabila jumlah pasien mengalami peningkatan. Pemerintah juga terus memberikan edukasi mengenai penggunaan masker dan tindakan sederhana untuk mengurangi paparan partikel di udara.
Kesiapan logistik medis turut diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya tambahan pasien dengan gangguan pernapasan maupun keluhan lainnya. Pemerintah memastikan ketersediaan masker respirator seperti N95 dan KN95, inhaler atau bronkodilator, tetes mata steril, tabung oksigen, serta cairan infus di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemantauan dilakukan tidak hanya melalui puskesmas, tetapi juga melibatkan rumah sakit, klinik pratama, dan klinik utama. Sistem tersebut diharapkan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan kesehatan masyarakat di seluruh Kota Bogor. Apabila ditemukan lonjakan pada wilayah tertentu, pemerintah dapat melakukan intervensi lebih cepat dengan menambah logistik maupun memperkuat tenaga kesehatan. Surveilans juga diperlukan untuk mengetahui kelompok usia dan wilayah yang paling banyak mengalami keluhan sehingga langkah perlindungan dapat disesuaikan.
Pemkot Bogor pada saat bersamaan terus memperkuat pemantauan kualitas udara melalui sistem yang terhubung dengan perangkat pemantauan pemerintah pusat. Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak untuk memperoleh data mengenai konsentrasi partikel dan perubahan kondisi udara secara berkala. Informasi lingkungan tersebut kemudian dibandingkan dengan perkembangan data kesehatan untuk membantu pemerintah menentukan kebijakan. Jika kualitas udara kembali memburuk, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi yang dapat diterapkan sesuai tingkat risiko. Sebaliknya, apabila kondisi tetap membaik, aktivitas masyarakat dapat berlangsung dengan tetap menerapkan kewaspadaan dasar. Pendekatan berbasis data tersebut dinilai penting karena kondisi udara dapat berubah akibat arah angin, aktivitas vulkanik, cuaca, maupun sumber pencemaran lainnya.
Dengan jumlah kasus ISPA mencapai 1.824, Pemkot Bogor meminta masyarakat tetap memperhatikan kondisi kesehatan meskipun kualitas udara telah menunjukkan perbaikan. Warga yang mengalami batuk, sesak napas, nyeri tenggorokan, demam, atau keluhan pernapasan yang menetap dianjurkan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, terutama apabila termasuk kelompok rentan. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat tidak langsung mengaitkan seluruh kasus ISPA dengan abu Gunung Anak Krakatau karena penyebab setiap pasien dapat berbeda dan membutuhkan pemeriksaan medis. Dinas Kesehatan akan melanjutkan pemantauan harian untuk melihat apakah kenaikan kasus hanya berlangsung sementara atau menunjukkan tren yang perlu mendapatkan penanganan tambahan. Ketersediaan obat, alat pelindung, oksigen, dan fasilitas pelayanan kesehatan terus dipastikan selama periode kewaspadaan. Dengan kombinasi pemantauan kualitas udara dan surveilans kesehatan, Pemkot Bogor berharap potensi dampak terhadap masyarakat dapat dideteksi serta ditangani sedini mungkin.