Pandeglang, 10 September 2026 – Keluarga Yudistiro Pranoto masih menggantungkan harapan besar agar jurnalis iNews tersebut bersama tujuh orang lainnya yang hilang kontak di perairan Selat Sunda dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Yudistiro merupakan satu dari lima jurnalis yang melakukan perjalanan menggunakan speedboat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. Sejak komunikasi dengan rombongan terputus, keluarga terus menunggu perkembangan dari Posko SAR di kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Memasuki hari ketiga operasi pencarian, tim gabungan masih memperluas penyisiran di sejumlah sektor perairan. Belum ditemukannya kapal maupun rombongan membuat keluarga berada dalam situasi penuh kecemasan, tetapi mereka tetap berusaha mempertahankan harapan.
Ade Danhur yang mewakili keluarga Yudistiro mengungkapkan, keluarga awalnya belum langsung berpikir buruk ketika komunikasi dengan Yudis terputus. Istri Yudistiro pertama kali mengetahui suaminya sulit dihubungi pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WIB. Kondisi jaringan telekomunikasi di tengah laut membuat keluarga sempat menduga persoalan tersebut hanya disebabkan hilangnya sinyal. Mereka masih menunggu karena komunikasi di sekitar pulau dan perairan terbuka memang dapat berubah-ubah. Kekhawatiran mulai meningkat setelah malam tiba dan Yudistiro tetap tidak dapat dihubungi.
Situasi semakin membuat keluarga cemas ketika pihak tempat Yudistiro bekerja menghubungi Ade untuk meminta identitas sang jurnalis. Dari komunikasi tersebut, keluarga mulai mengetahui adanya persoalan serius terhadap rombongan yang berangkat menuju kawasan Anak Krakatau. Ade kemudian bergerak menuju Banten untuk mengikuti perkembangan pencarian secara langsung. Ia juga berusaha menjaga kondisi psikologis anggota keluarga lainnya agar tidak terlalu larut dalam kekhawatiran. Di tengah ketidakpastian, keluarga masih berharap rombongan mungkin berada di salah satu pulau atau lokasi yang belum terjangkau tim pencarian.
Yudistiro diketahui merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara Yudistiro mempunyai anak kembar yang saat ini baru memasuki jenjang SMA. Kondisi tersebut membuat penantian keluarga terasa semakin berat. Meski demikian, Ade berusaha menjaga ibunda Yudistiro dan anggota keluarga lainnya agar tetap berpikir positif selama belum ada kepastian. Bagi keluarga, fokus utama saat ini adalah menunggu hasil pencarian dan berharap seluruh rombongan dapat kembali dengan selamat.
Pada Kamis, keluarga Yudistiro mendatangi Posko DVI di Pantai Marina Carita untuk menyerahkan data antemortem. Petugas juga melakukan pengambilan sampel DNA sebagai bagian dari prosedur yang diperlukan dalam operasi pencarian. Tahapan tersebut sempat membuat keluarga semakin memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Namun, pengumpulan data antemortem dan DNA merupakan langkah antisipatif dalam operasi SAR dan tidak menunjukkan bahwa kondisi tertentu terhadap korban telah dipastikan. Keluarga karena itu tetap meminta semua pihak tidak menarik kesimpulan sebelum terdapat informasi resmi.
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan adalah Muhammad Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman Daus dan Donal Husni. Mereka berada dalam satu speedboat bersama kapten kapal, anak buah kapal dan seorang pemandu sehingga total terdapat delapan orang yang masih dalam pencarian. Rombongan dilaporkan bertolak dari Dermaga Pagedongan di Carita pada Senin sekitar pukul 14.00 WIB. Salah seorang jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi pada sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi terakhir kemudian dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.04 WIB sebelum seluruh rombongan tidak lagi dapat dihubungi.
Operasi SAR dilakukan setelah informasi mengenai hilangnya komunikasi tersebut diterima petugas. Pada tahapan awal, tim menyisir kawasan yang diperkirakan menjadi jalur perjalanan speedboat menuju Anak Krakatau. Penyisiran kemudian diperluas setelah tidak ditemukan tanda keberadaan kapal maupun rombongan. Wilayah di sekitar Pulau Sebesi, Sebuku, Rakata, Pulau Panjang hingga perairan sekitar kompleks Krakatau menjadi bagian dari perhatian petugas. Perhitungan arus dan arah angin juga digunakan untuk menentukan kemungkinan pergeseran kapal apabila mengalami gangguan mesin atau kehilangan kendali.
Memasuki hari ketiga, kekuatan pencarian terus ditambah dengan melibatkan berbagai unsur. Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud serta sejumlah instansi dan relawan terlibat dalam operasi tersebut. Sejumlah kapal besar dan perahu cepat digunakan untuk membagi area pencarian menjadi beberapa sektor. Dukungan peralatan berupa drone termal, perlengkapan pencarian di air, perangkat komunikasi serta peralatan medis juga disiapkan. Operasi dilakukan dengan prinsip memperluas jangkauan tanpa mengabaikan keselamatan personel yang bekerja di lapangan.
Kondisi alam menjadi salah satu tantangan utama selama proses pencarian. Perubahan cuaca, gelombang, awan tebal dan sebaran abu vulkanik dapat memengaruhi jarak pandang maupun pergerakan kapal. Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga masih menjadi faktor yang harus diperhitungkan karena gunung tersebut berada pada status Level III atau Siaga. Radius bahaya di sekitar kawah membuat tim harus mengatur jalur penyisiran dengan hati-hati. Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan meskipun pencarian harus dilakukan secepat dan seluas mungkin.
Harapan agar rombongan ditemukan selamat tidak hanya datang dari keluarga Yudistiro. Keluarga jurnalis lainnya juga telah mendatangi kawasan Carita dan mengikuti perkembangan operasi SAR. Istri Ari Basuki bahkan ikut bergerak menyusuri sebagian kawasan Selat Sunda dalam upaya mendapatkan titik terang mengenai keberadaan suaminya. Kekhawatiran keluarga semakin besar karena rombongan telah beberapa hari tidak diketahui keberadaannya dan perbekalan yang dibawa untuk perjalanan tersebut diperkirakan terbatas. Meski demikian, keluarga tetap menyerahkan proses pencarian kepada tim yang memiliki kemampuan serta peralatan SAR.
Dukungan juga datang dari komunitas pers dan berbagai organisasi jurnalis. Keselamatan lima pewarta bersama tiga orang lainnya menjadi perhatian karena mereka hilang ketika menjalankan perjalanan untuk melakukan tugas peliputan. Sejumlah organisasi meminta seluruh sumber daya yang memungkinkan terus dikerahkan untuk membantu operasi pencarian. Peristiwa ini sekaligus kembali mengingatkan pentingnya prosedur keselamatan ketika jurnalis bekerja di wilayah bencana, laut terbuka maupun kawasan dengan aktivitas vulkanik. Kecepatan mendapatkan informasi tidak boleh mengalahkan pertimbangan terhadap keselamatan orang yang menjalankan tugas di lapangan.
Pemerintah turut memberikan dukungan melalui penguatan komunikasi di sekitar wilayah pencarian. Kualitas jaringan telekomunikasi menjadi penting karena operasi melibatkan banyak unsur yang tersebar di beberapa sektor Selat Sunda. Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan dugaan mengenai keberadaan maupun kondisi rombongan yang belum dapat diverifikasi. Informasi spekulatif dapat menambah tekanan psikologis terhadap keluarga yang sedang menunggu kepastian. Setiap perkembangan mengenai pencarian diharapkan mengacu pada informasi resmi dari petugas yang berada di lapangan.
Bagi keluarga Yudistiro, setiap jam dalam operasi pencarian membawa harapan sekaligus kecemasan. Mereka memahami berbagai kemungkinan harus dihadapi, tetapi belum ingin kehilangan keyakinan bahwa Yudis bersama jurnalis dan awak kapal lainnya dapat ditemukan selamat. Tim SAR juga terus mengoptimalkan personel, kapal dan peralatan untuk memperbesar peluang menemukan rombongan di tengah luasnya perairan Selat Sunda. Selama belum ada kepastian, keluarga memilih terus menunggu dan memberikan dukungan terhadap proses pencarian. Harapan terbesar mereka tetap sama, yakni delapan orang tersebut segera ditemukan dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga masing-masing.