Jakarta, 5 September 2026 – Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengingatkan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) agar menjaga soliditas organisasi dan tidak sampai menghadapi dualisme kepengurusan. Pesan tersebut disampaikan di tengah agenda penguatan pencak silat nasional setelah Sugiono terpilih sebagai Ketua Umum PB IPSI periode 2026–2030. Erick menilai persatuan organisasi menjadi salah satu syarat utama agar program pembinaan atlet dapat berjalan konsisten dan tidak terganggu persoalan internal. Konflik kepengurusan dinilai dapat memberikan dampak langsung terhadap atlet, pelatih, serta agenda kompetisi yang telah disusun. Karena itu, seluruh unsur pencak silat diminta menempatkan kepentingan olahraga di atas kepentingan kelompok. PB IPSI juga diharapkan dapat menjaga komunikasi dengan seluruh perguruan dan pengurus daerah.
Erick menegaskan pemerintah tidak ingin persoalan dualisme yang pernah terjadi di sejumlah cabang olahraga muncul di lingkungan pencak silat. Pengalaman pada cabang lain menunjukkan perselisihan mengenai legitimasi kepengurusan dapat menghambat pembinaan dan menciptakan ketidakpastian bagi atlet. Kementerian Pemuda dan Olahraga sebelumnya telah mengambil langkah untuk mendorong penyelesaian dualisme di beberapa organisasi olahraga melalui konsolidasi pihak-pihak yang berselisih. Menurut Erick, atlet sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan ketika organisasi terpecah. Mereka dapat menghadapi ketidakjelasan mengenai seleksi, kompetisi, pendanaan, maupun pengiriman ke kejuaraan internasional. Situasi semacam itu ingin dicegah sejak awal di lingkungan PB IPSI.
PB IPSI saat ini dipimpin Menteri Luar Negeri Sugiono yang terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional XVI IPSI pada 11 April 2026 di Jakarta. Sugiono menggantikan Prabowo Subianto yang telah memimpin organisasi pencak silat nasional dalam waktu panjang sebelum memutuskan tidak melanjutkan kepemimpinannya. Prabowo menyampaikan tanggung jawab sebagai Presiden membuat dirinya tidak memungkinkan lagi menjalankan tugas Ketua Umum PB IPSI secara efektif. Pergantian kepemimpinan tersebut kemudian dilakukan melalui mekanisme organisasi dalam Munas. Sugiono sebelumnya juga telah menjadi bagian dari kepengurusan PB IPSI sehingga memahami agenda pembinaan yang sedang berjalan. Masa kepengurusannya akan berlangsung hingga 2030.
Erick berharap kepemimpinan baru dapat menyatukan seluruh kekuatan pencak silat yang tersebar di Indonesia. PB IPSI memiliki jaringan besar mulai dari pengurus provinsi, kabupaten dan kota hingga ratusan perguruan dengan karakter serta sejarah masing-masing. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan apabila dikelola dalam satu arah pembinaan yang jelas. Namun, perbedaan pandangan juga harus diselesaikan melalui mekanisme organisasi agar tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPSI telah menempatkan organisasi tersebut sebagai wadah yang mempersatukan jajaran pencak silat Indonesia. Karena itu, konsolidasi internal dinilai menjadi salah satu pekerjaan penting kepengurusan periode 2026–2030.
Pemerintah mempunyai perhatian besar terhadap pencak silat karena cabang olahraga tersebut tidak hanya berkaitan dengan prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Pencak silat memiliki aspek olahraga, bela diri, seni, serta nilai mental dan spiritual yang berkembang dalam berbagai tradisi masyarakat. Indonesia juga mempunyai ratusan perguruan yang menjadi basis pembinaan atlet dan pelestarian berbagai aliran silat. Erick melihat potensi tersebut dapat dikembangkan lebih luas apabila seluruh unsur organisasi bergerak dalam satu arah. Dukungan pemerintah ke depan diharapkan memberikan dampak terhadap peningkatan prestasi sekaligus pengembangan pencak silat sebagai industri olahraga. Persatuan organisasi menjadi fondasi agar potensi besar tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Salah satu agenda utama PB IPSI adalah membawa pencak silat semakin dikenal di tingkat internasional dan pada akhirnya dapat dipertandingkan di Olimpiade. Saat Munas XVI, Erick menyebut pencak silat telah memiliki perwakilan di puluhan negara sehingga fondasi internasionalnya terus berkembang. Jaringan tersebut perlu diperluas dengan memperbanyak kompetisi, memperkuat organisasi internasional, serta meningkatkan kualitas pertandingan. Pemerintah juga mendorong diplomasi olahraga agar pencak silat mendapatkan pengakuan lebih luas. Target menuju Olimpiade membutuhkan proses panjang karena terdapat berbagai persyaratan internasional yang harus dipenuhi. Stabilitas organisasi nasional menjadi salah satu modal penting untuk menjalankan agenda tersebut secara konsisten.
Erick sebelumnya menegaskan bahwa kepemimpinan organisasi olahraga tidak boleh sekadar menjadi jabatan. Ketua umum cabang olahraga harus mempunyai kecintaan terhadap olahraga yang dipimpinnya, menyediakan waktu untuk menjalankan pembinaan, serta mampu mencari dukungan pendanaan bagi organisasi. Prinsip tersebut diperlukan agar kegiatan pembinaan tidak hanya bergantung kepada pemerintah. Organisasi juga harus mampu membangun kemitraan dengan sektor swasta dan berbagai pihak lain yang memiliki kepentingan terhadap pengembangan olahraga. Kepemimpinan yang aktif diharapkan dapat memperkuat program atlet, pelatih, kompetisi, dan pembinaan usia muda. Sebaliknya, konflik kepengurusan berpotensi mengalihkan energi organisasi dari tujuan-tujuan tersebut.
PB IPSI juga mempunyai tantangan menjaga keseimbangan antara pencak silat sebagai olahraga prestasi dan pencak silat sebagai warisan budaya. Pembinaan atlet membutuhkan pendekatan sport science, kompetisi berjenjang, kualitas pelatih, sistem wasit dan juri, serta dukungan fasilitas yang semakin profesional. Pada saat yang sama, karakter dan kekayaan tradisi berbagai perguruan tetap perlu dipertahankan. Pemerintah berharap kedua aspek tersebut dapat berkembang secara beriringan sehingga pencak silat tidak kehilangan identitas ketika semakin mendunia. Penguatan industri juga dapat dilakukan melalui penyelenggaraan kompetisi, perlengkapan olahraga, pariwisata, pertunjukan, dan berbagai kegiatan ekonomi kreatif. Seluruh potensi tersebut membutuhkan organisasi yang solid untuk dapat dikembangkan dalam skala lebih besar.
Kepemimpinan Sugiono juga diharapkan dapat melanjutkan fondasi yang telah dibangun selama periode Prabowo. Sugiono menyatakan amanah memimpin PB IPSI merupakan tanggung jawab besar karena organisasi tersebut memiliki cita-cita memperkuat karakter bangsa sekaligus membawa pencak silat menuju panggung dunia. Ia juga mendorong pencak silat mendapatkan ruang lebih besar dalam sistem pendidikan nasional. Langkah tersebut dinilai dapat memperluas basis pembinaan sekaligus mengenalkan nilai-nilai pencak silat kepada generasi muda. Dukungan pemerintah akan diarahkan agar program organisasi mempunyai dampak terhadap peningkatan prestasi. Namun, keberhasilannya tetap membutuhkan kerja bersama antara pengurus pusat, daerah, perguruan, atlet, pelatih, dan komunitas.
Pesan Erick agar tidak terjadi dualisme pada akhirnya menjadi bagian dari upaya menjaga PB IPSI tetap fokus menghadapi agenda besar pencak silat Indonesia. Kepengurusan periode 2026–2030 mempunyai tantangan meningkatkan prestasi sekaligus memperluas pengaruh pencak silat di tingkat internasional. Pemerintah berharap perbedaan kepentingan yang muncul dapat diselesaikan melalui mekanisme organisasi tanpa menciptakan kepengurusan tandingan. Soliditas dinilai penting agar atlet dan pelatih tidak menjadi korban persoalan administratif maupun konflik internal. Dengan organisasi yang bersatu, PB IPSI dapat lebih fokus memperkuat pembinaan, memperluas kompetisi, dan menjalankan diplomasi olahraga. Target jangka panjang membawa pencak silat menuju Olimpiade pun diharapkan dapat diperjuangkan secara lebih terarah dan konsisten.