Jakarta, 10 Oktober 2026 – Seseorang yang mendengar suara tanpa sumber yang jelas, berbicara sendiri, atau menunjukkan perubahan perilaku drastis terkadang dianggap mengalami kesurupan maupun gangguan gaib. Padahal, beberapa kondisi tersebut dapat muncul sebagai gejala gangguan kesehatan mental, termasuk skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, memahami realitas, dan berperilaku. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan profesional karena gejalanya dapat berbeda pada setiap orang. Mengenali tanda sejak dini dapat membantu penderita memperoleh penanganan yang tepat.
Salah satu gejala yang dapat terjadi pada skizofrenia adalah halusinasi. Penderitanya dapat mendengar, melihat, mencium, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak dialami orang lain di sekitarnya. Halusinasi pendengaran termasuk yang cukup dikenal, misalnya mendengar suara yang berbicara, berkomentar, atau memberikan perintah. Bagi orang yang mengalaminya, suara tersebut dapat terasa sangat nyata sehingga menimbulkan ketakutan atau kebingungan. Pengalaman seperti ini terkadang kemudian ditafsirkan sebagai “bisikan gaib”, terutama apabila lingkungan sekitar belum memahami kemungkinan adanya gangguan kesehatan mental.
Gejala lain yang dapat muncul adalah delusi, yakni keyakinan kuat terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan meskipun terdapat bukti yang bertentangan. Seseorang misalnya dapat merasa sedang diawasi, dikejar, dikendalikan, atau menjadi sasaran pihak tertentu tanpa dasar yang memadai. Delusi berbeda dari sekadar rasa curiga atau kekhawatiran biasa karena keyakinannya dapat bertahan kuat dan memengaruhi perilaku sehari-hari. Penderita juga mungkin mengalami kesulitan membedakan pengalaman internal dengan kejadian yang benar-benar berlangsung. Namun, keberadaan satu gejala saja tidak cukup untuk menetapkan diagnosis skizofrenia.
Perubahan pola berpikir dan berbicara juga dapat menjadi bagian dari gejala. Pembicaraan seseorang mungkin sulit diikuti karena gagasan berpindah-pindah tanpa hubungan yang jelas atau jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan. Pada kondisi tertentu, perilaku dapat menjadi sangat tidak teratur sehingga aktivitas sehari-hari terganggu. Sebagian penderita dapat terlihat sangat gelisah, sedangkan sebagian lainnya justru menunjukkan respons yang sangat terbatas. Gejala seperti ini perlu dinilai secara menyeluruh karena sejumlah kondisi kesehatan lain juga dapat menimbulkan perubahan perilaku serupa.
Skizofrenia juga dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai gejala negatif. Penderitanya mungkin kehilangan motivasi, semakin jarang berinteraksi dengan orang lain, kesulitan menunjukkan ekspresi emosi, atau tidak lagi tertarik pada kegiatan yang sebelumnya disukai. Kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, belajar, bekerja, dan merawat diri dapat ikut menurun. Perubahan tersebut terkadang berkembang secara bertahap sehingga keluarga tidak langsung menyadarinya. Pada sebagian orang, penurunan fungsi bahkan dapat terlihat sebelum muncul halusinasi atau delusi yang lebih jelas.
Penting dipahami bahwa seseorang yang berbicara sendiri atau memiliki kepercayaan tertentu tidak otomatis mengalami skizofrenia. Diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu perilaku, tes daring, maupun penilaian orang di sekitarnya. Tenaga profesional perlu mengevaluasi jenis gejala, durasi, tingkat gangguan terhadap kehidupan sehari-hari, riwayat kesehatan, penggunaan obat atau zat tertentu, serta kemungkinan kondisi medis lainnya. Beberapa gangguan mental dan kondisi neurologis juga dapat menimbulkan gejala psikosis. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan sebelum menentukan diagnosis dan penanganan.
Skizofrenia dapat ditangani melalui kombinasi terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Obat antipsikotik dapat digunakan berdasarkan penilaian dokter, sementara intervensi psikososial, rehabilitasi, dukungan keluarga, serta pendampingan aktivitas sehari-hari dapat menjadi bagian dari perawatan. Dukungan lingkungan penting untuk membantu penderita mempertahankan fungsi sosial dan menjalani pengobatan secara konsisten. Stigma seperti menyebut penderita berbahaya, kurang iman, atau semata-mata mengalami gangguan gaib justru dapat menghambat pencarian bantuan. Keluarga sebaiknya merespons perubahan perilaku dengan tenang dan mengarahkan orang tersebut memperoleh pemeriksaan profesional.
Pertolongan segera diperlukan apabila seseorang mengalami halusinasi atau keyakinan yang membuatnya berisiko menyakiti diri sendiri maupun orang lain, sangat kebingungan, tidak mampu merawat diri, atau mengalami perubahan perilaku ekstrem. Dalam keadaan tersebut, keluarga dapat membawa orang tersebut ke fasilitas kesehatan atau menghubungi layanan kegawatdaruratan setempat. Hindari berdebat keras mengenai pengalaman yang sedang dirasakannya karena hal tersebut dapat meningkatkan ketegangan. Skizofrenia bukan kondisi yang dapat dikenali hanya dari anggapan mengenai kesurupan atau “bisikan gaib”. Pemeriksaan tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.