Jakarta, 9 Oktober 2026 – Tanaman lidah mertua menjadi salah satu pilihan tanaman hias yang banyak diminati karena memiliki bentuk daun unik dan perawatan relatif mudah. Tanaman yang dikenal dengan nama ilmiah Dracaena trifasciata ini mampu bertahan dalam kondisi lingkungan dengan ketersediaan air terbatas. Namun, masih banyak pemilik tanaman yang melakukan penyiraman terlalu sering karena menganggap semua tanaman membutuhkan air setiap hari. Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat menyebabkan akar membusuk dan mengganggu pertumbuhan. Mengetahui jadwal penyiraman yang tepat menjadi langkah penting agar lidah mertua tetap sehat dan tumbuh optimal.
Lidah mertua termasuk tanaman yang mampu menyimpan cadangan air pada bagian daun dan jaringan tubuhnya. Kemampuan tersebut membuat tanaman dapat bertahan lebih lama tanpa penyiraman dibandingkan sebagian besar tanaman hias berdaun tipis. Dalam kondisi ruangan dengan pencahayaan cukup dan suhu relatif stabil, penyiraman umumnya dapat dilakukan setiap dua hingga tiga minggu. Namun, jadwal tersebut bukan aturan mutlak karena kebutuhan air dipengaruhi ukuran pot, jenis media tanam, kelembapan, serta kondisi lingkungan. Pemilik tanaman perlu memperhatikan keadaan tanah sebelum memutuskan untuk memberikan air.
Ketika musim kemarau atau cuaca panas, media tanam biasanya lebih cepat kehilangan kelembapan. Pada kondisi tersebut, lidah mertua mungkin membutuhkan penyiraman sekitar satu hingga dua minggu sekali, terutama apabila ditempatkan di area dengan sirkulasi udara baik. Sebaliknya, saat musim hujan atau udara lebih lembap, penyiraman dapat dikurangi menjadi tiga hingga empat minggu sekali atau lebih lama. Tanaman yang diletakkan di dalam ruangan berpendingin udara juga perlu diperiksa secara berkala karena laju pengeringan media dapat berbeda. Penyesuaian berdasarkan kondisi nyata lebih efektif dibandingkan mengikuti jadwal yang terlalu kaku.
Cara paling sederhana menentukan waktu penyiraman adalah memeriksa kelembapan media tanam. Pemilik tanaman dapat memasukkan jari atau alat pemeriksa kelembapan ke dalam tanah untuk mengetahui apakah bagian dalam media masih basah. Penyiraman sebaiknya dilakukan setelah media benar-benar mengering, bukan hanya ketika permukaan terlihat kering. Pot berukuran besar biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk kehilangan kelembapan dibandingkan pot kecil. Dengan pemeriksaan tersebut, risiko memberikan air berlebihan dapat dikurangi secara signifikan.
Teknik penyiraman juga memengaruhi kesehatan tanaman lidah mertua. Ketika media sudah kering, air dapat diberikan secara merata hingga keluar melalui lubang drainase di bagian bawah pot. Setelah itu, kelebihan air yang terkumpul pada tatakan sebaiknya segera dibuang agar akar tidak terus terendam. Hindari memberikan sedikit air setiap hari karena kebiasaan tersebut dapat membuat kelembapan media tidak terkendali. Penggunaan pot berlubang dan media tanam yang mudah mengalirkan air merupakan faktor penting untuk menjaga kondisi akar.
Tanda lidah mertua terlalu banyak menerima air dapat terlihat dari perubahan kondisi daun. Daun yang mulai menguning, terasa lunak, atau tampak lembek pada bagian pangkal dapat mengindikasikan masalah kelembapan berlebihan. Dalam kondisi lebih berat, akar dapat mengalami pembusukan sehingga tanaman kehilangan kemampuan menyerap air dan nutrisi. Sebaliknya, tanaman yang terlalu lama kekurangan air mungkin menunjukkan daun keriput, melengkung, atau kehilangan kekencangan. Mengenali perubahan tersebut membantu pemilik tanaman menentukan tindakan perawatan yang sesuai sebelum kerusakan semakin parah.
Selain penyiraman, pencahayaan dan media tanam memiliki peran besar terhadap pertumbuhan lidah mertua. Tanaman ini dapat beradaptasi dengan berbagai tingkat cahaya, tetapi umumnya tumbuh lebih baik pada tempat yang mendapatkan cahaya terang tidak langsung. Media tanam berpori, seperti campuran tanah dengan perlit, pasir kasar, atau bahan khusus sukulen, dapat membantu mencegah penumpukan air. Pemupukan tidak perlu dilakukan terlalu sering karena kebutuhan nutrisi tanaman relatif rendah. Perawatan yang sederhana tetapi konsisten justru lebih efektif dibandingkan terlalu banyak memberikan air maupun pupuk.
Lidah mertua merupakan tanaman hias yang cocok bagi masyarakat dengan aktivitas padat karena tidak memerlukan penyiraman setiap hari. Jadwal dua hingga tiga minggu sekali dapat dijadikan perkiraan awal untuk tanaman dalam ruangan, tetapi kondisi media tanam tetap menjadi acuan utama. Penyiraman perlu disesuaikan dengan musim, pencahayaan, ukuran pot, serta kemampuan tanah mengalirkan air. Dengan memastikan media mengering sebelum disiram kembali, risiko pembusukan akar dapat ditekan. Perawatan yang tepat akan membantu lidah mertua mempertahankan daun yang kokoh, warna menarik, dan pertumbuhan sehat dalam jangka panjang.