Jakarta, 27 Mei 2026 – Penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan menjadi hal penting untuk menjaga performa dan usia pakai mobil tetap optimal. Di Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga menyediakan beberapa jenis bahan bakar dengan angka oktan berbeda, salah satunya adalah Pertalite yang masih banyak digunakan masyarakat. Namun tidak semua mobil disarankan menggunakan BBM jenis tersebut karena setiap mesin memiliki kebutuhan kompresi dan angka oktan berbeda. Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi berpotensi menurunkan performa mesin hingga menyebabkan gangguan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, pemilik kendaraan dianjurkan memahami rasio kompresi mesin mobil sebelum menentukan jenis BBM yang digunakan sehari-hari.
Secara umum, Pertalite dengan nilai oktan atau RON 90 lebih cocok digunakan untuk mobil dengan rasio kompresi mesin sekitar 9:1 hingga maksimal 10:1. Mesin dengan spesifikasi tersebut biasanya ditemukan pada kendaraan harian kelas menengah, city car, hingga beberapa model Low MPV generasi sebelumnya. Jika rasio kompresi terlalu tinggi namun tetap menggunakan BBM beroktan rendah, proses pembakaran di ruang mesin bisa menjadi tidak sempurna dan memicu gejala knocking atau ngelitik. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi efisiensi bahan bakar dan mempercepat penurunan kualitas komponen mesin. Karena itu, produsen kendaraan umumnya sudah mencantumkan rekomendasi jenis BBM yang sesuai di buku manual kendaraan.
Beberapa mobil dengan teknologi mesin modern kini banyak menggunakan rasio kompresi di atas 10:1 sehingga lebih disarankan memakai bahan bakar dengan oktan lebih tinggi seperti Pertamax atau jenis setara lainnya. Mobil-mobil keluaran terbaru yang mengusung teknologi turbo maupun direct injection juga cenderung membutuhkan BBM berkualitas lebih baik agar performanya tetap maksimal. Meski begitu, sejumlah teknisi otomotif menyebut masih ada kendaraan tertentu yang tetap dapat menggunakan Pertalite tanpa masalah selama spesifikasi mesin memang mendukung. Faktor kondisi mesin, pola penggunaan, serta kualitas perawatan kendaraan juga turut memengaruhi kecocokan bahan bakar yang digunakan. Oleh sebab itu, pemilik kendaraan tidak dianjurkan hanya mengikuti kebiasaan umum tanpa memperhatikan rekomendasi teknis dari pabrikan.
Selain spesifikasi mesin, penggunaan BBM yang tepat juga berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi kendaraan. Mesin yang memperoleh oktan sesuai kebutuhan biasanya memiliki pembakaran lebih efisien sehingga tenaga terasa optimal dan konsumsi BBM lebih stabil. Sebaliknya, penggunaan bahan bakar di bawah standar rekomendasi dapat membuat performa mesin terasa berat dan memicu penumpukan kerak karbon lebih cepat. Dalam kondisi tertentu, sensor mesin modern juga dapat mendeteksi kualitas pembakaran yang kurang ideal sehingga memunculkan indikator peringatan di panel kendaraan. Karena itu, pemilik mobil disarankan tidak hanya mempertimbangkan harga BBM, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan mesin dalam jangka panjang.
Pengamat otomotif mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada mitos mengenai penggunaan bahan bakar tertentu tanpa dasar teknis yang jelas. Memahami spesifikasi kendaraan menjadi langkah penting untuk menjaga kendaraan tetap awet dan nyaman digunakan sehari-hari. Di tengah perkembangan teknologi otomotif yang semakin modern, kesesuaian antara mesin dan jenis BBM menjadi faktor utama dalam menjaga efisiensi serta performa kendaraan. Pemeriksaan berkala dan penggunaan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan dinilai mampu membantu memperpanjang usia komponen mesin dan mengurangi risiko kerusakan. Dengan pemilihan BBM yang tepat, kendaraan tidak hanya lebih hemat, tetapi juga dapat bekerja lebih optimal dalam berbagai kondisi perjalanan.