Jakarta, 2 September 2026 – Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) menilai pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dapat berlangsung kapan saja. Penilaian tersebut muncul setelah Seoul mendeteksi tanda-tanda yang mengarah pada kemungkinan dimulainya kembali dialog antara Washington dan Pyongyang. Meski demikian, intelijen Korea Selatan belum dapat memastikan adanya kontak langsung antara kedua pihak. Pernyataan tersebut disampaikan kepada anggota parlemen Korea Selatan setelah NIS memberikan pengarahan mengenai perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara.
Anggota parlemen Korea Selatan Youn Kun-young mengatakan NIS melihat sejumlah indikasi yang menunjukkan adanya kemungkinan Washington dan Pyongyang kembali membuka jalur komunikasi. Namun, badan intelijen tersebut belum memperoleh konfirmasi mengenai komunikasi langsung antara pemerintah Amerika Serikat dan Korea Utara. Karena itu, kemungkinan pertemuan puncak dinilai terbuka, tetapi belum terdapat jadwal resmi yang dapat dipastikan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa diplomasi kedua negara masih berada pada tahap awal dan sangat bergantung pada keputusan politik kedua pemimpin.
Peluang pertemuan kembali mencuat setelah Trump sebelumnya menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Kim Jong Un. Presiden AS tersebut diketahui memiliki hubungan personal yang cukup unik dengan pemimpin Korea Utara setelah tiga kali bertemu pada periode pertama pemerintahannya. Pertemuan pertama berlangsung di Singapura pada 2018, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Hanoi pada 2019 dan pertemuan singkat di Zona Demiliterisasi Korea pada tahun yang sama. Sejak perundingan kedua negara mengalami kebuntuan, komunikasi tingkat tinggi antara Washington dan Pyongyang praktis tidak menunjukkan perkembangan berarti.
Trump dalam beberapa kesempatan terakhir kembali membuka kemungkinan bertemu Kim pada tahun ini. Dorongan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat perhatian terhadap hubungan AS-Korea Utara kembali meningkat. Pemerintah AS juga sebelumnya mengurangi skala sejumlah latihan militer bersama Korea Selatan, sebuah langkah yang dipandang dapat menciptakan ruang diplomasi dengan Pyongyang. Namun, pengurangan latihan militer tersebut tidak serta-merta menghasilkan kepastian bahwa pertemuan Trump dan Kim akan segera terlaksana.
Di sisi lain, Korea Utara masih memiliki posisi yang sangat berbeda dengan Amerika Serikat mengenai isu nuklir. Pyongyang selama ini terus mengembangkan kemampuan militernya dan menolak tuntutan agar meninggalkan seluruh persenjataan nuklirnya sebagai prasyarat utama dialog. Kim juga sebelumnya mengisyaratkan bahwa dirinya masih terbuka terhadap hubungan dengan Trump, tetapi menginginkan perubahan pendekatan dari Washington. Perbedaan mendasar tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar apabila kedua negara benar-benar kembali menuju perundingan tingkat tinggi.
Korea Selatan memiliki kepentingan besar terhadap kemungkinan pertemuan tersebut karena setiap perkembangan hubungan Washington dan Pyongyang dapat berdampak langsung terhadap keamanan Semenanjung Korea. Pemerintah Seoul menyambut upaya diplomasi Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama menekankan bahwa kepentingan keamanan Korea Selatan harus tetap diperhitungkan. Seoul juga ingin memastikan dirinya tidak tersisih apabila Washington dan Pyongyang kembali melakukan negosiasi secara langsung. Koordinasi antara Korea Selatan dan Amerika Serikat karena itu tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan hubungan dengan Korea Utara.
Perkembangan diplomasi tersebut terjadi di tengah situasi keamanan regional yang masih sensitif. Korea Utara tetap menjadi perhatian karena program rudal dan nuklirnya, sementara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang terus mempertahankan kerja sama pertahanan. Tiga negara tersebut bahkan dijadwalkan menggelar latihan militer bersama pada September untuk meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman rudal dan nuklir Korea Utara. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa jalur diplomasi dan persiapan pertahanan tetap berjalan secara bersamaan.
Bagi Washington, pertemuan Trump dan Kim dapat menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan diplomasi yang terhenti setelah kegagalan perundingan di Hanoi pada 2019. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pertemuan tingkat tinggi tidak otomatis menghasilkan kesepakatan mengenai program nuklir Korea Utara maupun pengurangan sanksi. Kedua belah pihak harus terlebih dahulu menemukan titik temu mengenai agenda pembicaraan, konsesi yang mungkin diberikan, serta isu keamanan yang menjadi kepentingan masing-masing. Tanpa persiapan tersebut, pertemuan berisiko hanya menjadi simbol diplomasi tanpa menghasilkan kemajuan substantif.
Dengan penilaian NIS bahwa pertemuan Trump dan Kim dapat terjadi kapan saja, perhatian kini tertuju pada apakah indikasi dialog tersebut akan berkembang menjadi komunikasi resmi. Belum adanya konfirmasi kontak langsung membuat jadwal pertemuan tetap belum pasti. Namun, keinginan Trump untuk kembali bertemu Kim dan munculnya tanda-tanda kemungkinan dialog memberikan sinyal bahwa hubungan Washington-Pyongyang kembali memasuki fase yang patut diperhatikan. Jika komunikasi benar-benar terwujud, pertemuan tersebut dapat menjadi salah satu perkembangan diplomatik paling penting di kawasan Asia Timur pada 2026.