Lombok Tengah, 30 Agustus 2026 – Desa Sade di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dikenal sebagai salah satu kawasan adat Suku Sasak yang masih mempertahankan berbagai tradisi leluhur. Selain rumah tradisional dan kain tenun, Desa Sade juga memiliki tradisi perkawinan yang cukup unik dan kerap membuat wisatawan penasaran, yakni merariq atau kawin lari.
Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian dari budaya masyarakat Sasak. Dalam praktiknya, calon mempelai laki-laki membawa perempuan yang ingin dinikahinya ke tempat yang telah disepakati, kemudian pihak keluarga laki-laki memberi tahu keluarga perempuan mengenai keberadaan calon pengantin.
Tradisi merariq tidak sesederhana istilah “kawin lari” yang dikenal secara umum. Di dalam budaya Sasak terdapat rangkaian aturan dan tahapan adat yang harus dijalankan hingga akhirnya pasangan tersebut melangsungkan pernikahan.
Berikut sejumlah fakta menarik mengenai Desa Sade dan tradisi masyarakatnya:
1. Merariq menjadi bagian dari tradisi perkawinan
Dalam tradisi merariq, pasangan yang telah saling menyukai menjalani proses membawa calon mempelai perempuan secara diam-diam sebelum keluarga kedua pihak membicarakan pernikahan.
Setelah perempuan dibawa ke rumah keluarga atau kerabat pihak laki-laki, pihak keluarga laki-laki kemudian menyampaikan keberadaannya kepada keluarga perempuan. Proses tersebut dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai rencana pernikahan.
Tradisi ini memiliki aturan adat tersendiri dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan penculikan dalam pengertian hukum.
2. Ada proses adat sebelum pernikahan
Setelah proses merariq berlangsung, keluarga kedua calon mempelai akan menjalani sejumlah tahapan adat. Komunikasi antara kedua keluarga menjadi bagian penting untuk menentukan kelanjutan menuju pernikahan.
Dalam beberapa praktik adat Sasak, terdapat proses selabar, mesejati, dan mbait wali. Tahapan tersebut berkaitan dengan penyampaian kabar, pembicaraan antarkeluarga, hingga permintaan izin kepada pihak keluarga perempuan.
Setelah urusan adat diselesaikan, pasangan kemudian melaksanakan akad nikah sesuai ajaran Islam.
3. Desa Sade masih menjadi tempat tinggal warga
Desa Sade bukan sekadar kawasan yang dibangun untuk kepentingan pariwisata. Rumah-rumah tradisional yang berada di kawasan tersebut merupakan bagian dari permukiman masyarakat Sasak.
Warga masih menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari di lingkungan desa. Kehidupan tradisional tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat secara langsung budaya masyarakat Sasak.
4. Rumah adat memiliki bentuk yang khas
Rumah tradisional di Desa Sade memiliki bentuk yang berbeda dari rumah modern. Atapnya menggunakan alang-alang, sedangkan bagian dinding dan lantainya dibuat dengan material tradisional.
Bangunan tersebut dikenal dengan sebutan bale tani. Selain menjadi tempat tinggal, rumah adat juga menggambarkan cara masyarakat Sasak menyesuaikan bangunan dengan lingkungan serta kebutuhan kehidupan mereka.
Beberapa rumah memiliki ruang yang dibagi berdasarkan fungsi tertentu. Penataan bagian dalam rumah juga berkaitan dengan kehidupan keluarga dan tradisi masyarakat setempat.
5. Lantai rumah dirawat menggunakan kotoran sapi atau kerbau
Salah satu kebiasaan yang paling sering menarik perhatian pengunjung adalah penggunaan kotoran sapi atau kerbau untuk merawat lantai rumah.
Bahan tersebut digunakan setelah melalui proses tertentu dan dipercaya membantu membuat permukaan lantai lebih kuat serta mengurangi debu. Penggunaan bahan alami ini merupakan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Meski terdengar tidak biasa bagi masyarakat modern, cara tersebut merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang berkembang di lingkungan masyarakat Sade.
6. Perempuan belajar menenun sejak usia muda
Kegiatan menenun menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sade. Perempuan Sasak secara turun-temurun diperkenalkan dengan keterampilan membuat kain menggunakan alat tenun tradisional.
Kain hasil tenunan memiliki motif dan karakter khas yang mencerminkan budaya Sasak. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan waktu sehingga keterampilan tersebut menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya sekaligus sumber penghasilan masyarakat.
Wisatawan yang berkunjung juga dapat menemukan berbagai kain tenun dan kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat setempat.
7. Seni tradisional masih menjadi bagian kehidupan masyarakat
Selain menenun, masyarakat Sasak juga memiliki berbagai kesenian tradisional. Salah satunya adalah peresean, yaitu pertunjukan adu ketangkasan menggunakan tongkat dan perisai.
Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang berkaitan dengan keberanian dan tradisi masyarakat Sasak.
Kesenian lain seperti musik tradisional dan prosesi nyongkolan juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Lombok yang masih dikenal hingga kini.
8. Nama Sade memiliki makna tersendiri
Dalam bahasa masyarakat Sasak, kata “Sade” memiliki makna yang berkaitan dengan obat atau kesadaran. Nama tersebut menjadi identitas bagi kawasan adat yang berada di bagian selatan Pulau Lombok tersebut.
Desa Sade juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya karena menawarkan pengalaman untuk melihat langsung kehidupan masyarakat Sasak serta berbagai bentuk warisan tradisionalnya.
Keberadaan tradisi dan rumah adat membuat Desa Sade memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan wisata modern. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mengenal nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan masyarakat.
Meski perkembangan zaman terus berlangsung, masyarakat Sade berupaya menjaga identitas budaya mereka. Tradisi perkawinan, rumah adat, kegiatan menenun, hingga kesenian menjadi bagian dari warisan yang terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Desa Sade juga menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tradisi merariq yang sering disebut sebagai kawin lari menjadi salah satu budaya yang paling banyak mengundang rasa penasaran, tetapi pemahamannya perlu ditempatkan dalam konteks adat dan tata aturan masyarakat Sasak.
Dengan berbagai keunikan tersebut, Desa Sade bukan hanya menarik karena bentuk rumah tradisionalnya. Kehidupan masyarakat, keterampilan menenun, penggunaan bahan alami dalam perawatan rumah, kesenian, serta tradisi perkawinan membuat kawasan adat ini memiliki kekayaan budaya yang beragam dan tetap menarik untuk dipelajari.