Jakarta, 6 Oktober 2026 –
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memperkuat pengembangan energi rendah karbon dengan menjadi offtaker biomethane yang diproduksi dari pengolahan limbah industri kelapa sawit. Volume biomethane yang akan diserap mencapai sekitar 150.000 MMBTU dan direncanakan terintegrasi dengan infrastruktur gas yang dikelola perusahaan. Pemanfaatan biomethane menjadi salah satu langkah untuk memperluas sumber pasokan gas sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih bersih. Gas terbarukan tersebut dapat dimanfaatkan melalui jaringan yang telah tersedia setelah memenuhi persyaratan kualitas yang ditentukan. Langkah ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Biomethane pada dasarnya merupakan gas dengan kandungan metana tinggi yang diperoleh setelah biogas menjalani proses pemurnian. Dalam industri kelapa sawit, salah satu sumbernya berasal dari limbah cair atau palm oil mill effluent yang dapat menghasilkan biogas melalui proses pengolahan tertentu. Biogas tersebut kemudian ditingkatkan kualitasnya dengan mengurangi kandungan karbon dioksida, air, dan komponen lain sehingga karakteristiknya semakin mendekati gas bumi. Setelah mencapai spesifikasi yang diperlukan, biomethane dapat dimanfaatkan sebagai alternatif energi untuk berbagai kebutuhan. Pendekatan tersebut membuat limbah yang sebelumnya menjadi beban pengelolaan dapat diubah menjadi sumber energi.
Sebagai offtaker, PGN akan berperan menyerap biomethane yang dihasilkan dan menyalurkannya kepada pasar melalui ekosistem gas perusahaan. Volume sekitar 150.000 MMBTU memberikan peluang bagi produsen biomethane untuk memperoleh kepastian penyerapan sekaligus mendukung keekonomian proyek. Keberadaan pembeli dengan jaringan distribusi yang luas menjadi faktor penting dalam pengembangan industri biomethane karena produksi perlu diikuti akses terhadap konsumen. Infrastruktur gas PGN dapat menjadi penghubung antara lokasi produksi dengan pengguna energi sepanjang aspek teknis dan komersial telah terpenuhi. Integrasi tersebut juga memungkinkan biomethane dipasarkan dengan memanfaatkan jaringan yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan gas bumi.
Pemanfaatan biomethane dinilai mempunyai nilai strategis karena dapat mendukung diversifikasi pasokan energi nasional. Indonesia memiliki industri kelapa sawit dalam skala besar sehingga menghasilkan volume limbah yang juga signifikan dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku energi. Jika pengelolaannya diperluas, limbah sawit tidak hanya dapat menghasilkan listrik berbasis biogas, tetapi juga biomethane yang dapat disalurkan untuk kebutuhan industri maupun pelanggan lainnya. Model tersebut mempertemukan sektor perkebunan, pengelolaan limbah, dan bisnis gas dalam satu rantai ekonomi. Pengembangan proyek serupa juga berpotensi menciptakan sumber pasokan energi baru di wilayah yang berdekatan dengan sentra perkebunan sawit.
Dari sisi lingkungan, pengolahan limbah sawit menjadi biomethane dapat membantu menekan pelepasan metana langsung ke atmosfer apabila fasilitas pengelolaannya dijalankan dengan standar yang tepat. Metana merupakan gas rumah kaca yang perlu dikendalikan sehingga penangkapan dan pemanfaatannya sebagai energi dapat memberikan manfaat tambahan. Biomethane juga dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu pengguna gas menurunkan intensitas karbon dari konsumsi energinya. Bagi sektor industri, ketersediaan energi dengan jejak karbon lebih rendah semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan terhadap praktik produksi berkelanjutan. Meski demikian, manfaat lingkungan tetap bergantung pada keseluruhan proses produksi, pemurnian, transportasi, dan pengelolaan bahan bakunya.
Integrasi biomethane ke dalam infrastruktur gas membutuhkan pengendalian kualitas karena karakteristik gas yang masuk harus sesuai dengan persyaratan jaringan. Kandungan metana, tekanan, kadar air, serta komponen pengotor menjadi sejumlah aspek teknis yang perlu diperhatikan sebelum gas dapat disalurkan. Selain itu, lokasi fasilitas produksi terhadap jaringan PGN akan memengaruhi kebutuhan investasi untuk pembangunan fasilitas penghubung. Kepastian volume produksi juga diperlukan agar penyaluran dapat berlangsung secara berkelanjutan dan ekonomis. Kolaborasi antara produsen biomethane, pengelola perkebunan atau pabrik kelapa sawit, PGN, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan rantai pasok.
Bagi PGN, pengembangan biomethane dapat melengkapi portofolio gas bumi dan sumber energi rendah karbon yang disiapkan untuk memenuhi perubahan kebutuhan pelanggan. Infrastruktur pipa, fasilitas distribusi, dan jaringan pelanggan yang telah tersedia menjadi modal untuk mempercepat komersialisasi gas terbarukan tanpa membangun seluruh ekosistem penyaluran dari awal. Pada tahap berikutnya, model offtake biomethane dapat dikembangkan di lokasi lain apabila pasokan bahan baku, teknologi, dan keekonomian proyek mendukung. Potensi tersebut cukup besar mengingat sentra industri kelapa sawit tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pengembangan dalam skala lebih luas juga dapat mendukung terbentuknya pasar biomethane nasional.
Penyerapan biomethane sebesar 150.000 MMBTU dari limbah sawit menjadi langkah awal untuk menghubungkan produksi energi terbarukan dengan infrastruktur gas yang sudah beroperasi. Keberhasilan proyek akan ditentukan oleh konsistensi pasokan, kualitas biomethane, kesiapan jaringan, serta kemampuan menjaga harga tetap kompetitif bagi pelanggan. Jika model tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan, biomethane berpeluang menjadi pelengkap gas bumi sekaligus memberikan nilai tambah bagi pengelolaan limbah industri sawit. Integrasi ke jaringan PGN juga memungkinkan pemanfaatannya menjangkau konsumen yang lebih luas dibandingkan apabila gas hanya digunakan di sekitar lokasi produksi. Langkah tersebut pada akhirnya dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem gas rendah karbon sekaligus diversifikasi sumber energi nasional.