Jakarta, 16 Oktober 2026 – Penyerang Manchester City, Erling Haaland, menjadi sorotan setelah melakukan tindakan yang dianggap tidak mengikuti aturan unik pelatih Enzo Maresca dalam pertandingan Liga Champions 2026/2027 melawan Paris Saint-Germain (PSG). Momen tersebut terjadi ketika Manchester City mengalami kekalahan 2-4 dari PSG di Stadion Etihad pada Rabu, 14 Oktober 2026, waktu setempat. Haaland yang dipercaya mengenakan ban kapten pada babak kedua justru tidak menjalankan kebiasaan komunikasi taktis yang sebelumnya diterapkan Maresca. Kejadian tersebut menjadi perbincangan karena aturan sang pelatih memiliki ketentuan khusus mengenai tindakan kapten ketika tim berhasil mencetak gol. Meski demikian, situasi pertandingan membuat tindakan Haaland lebih dipandang sebagai momen menarik daripada pelanggaran disiplin serius.
Manchester City mengawali pertandingan menghadapi PSG dengan situasi sulit setelah kebobolan tiga gol pada babak pertama. Tim tamu membuka keunggulan melalui Desire Doue pada menit ke-13 sebelum Ousmane Dembele menggandakan skor dua menit kemudian. PSG semakin menjauh setelah Vitinha mencetak gol ketiga pada menit ke-32 dan membuat tuan rumah tertinggal 0-3 saat turun minum. Kondisi tersebut memaksa Enzo Maresca melakukan perubahan besar untuk memperbaiki permainan timnya. Pelatih asal Italia itu memasukkan tiga pemain sekaligus pada awal babak kedua guna meningkatkan intensitas serangan. Perubahan strategi tersebut juga memengaruhi susunan kepemimpinan di lapangan karena kapten utama Ruben Dias termasuk pemain yang ditarik keluar.
Pergantian Ruben Dias membuat ban kapten Manchester City kemudian diserahkan kepada Erling Haaland. Keputusan tersebut menarik perhatian karena Maresca sebelumnya pernah menjelaskan bahwa Haaland bukan pilihan ideal untuk menjalankan kebiasaan tertentu yang ia terapkan kepada kapten tim. Ketika masih menangani Leicester City dan Chelsea, Maresca memiliki aturan bahwa kapten harus menghampiri bangku cadangan setiap kali tim mencetak gol. Tujuannya bukan untuk melakukan selebrasi, melainkan menerima instruksi tambahan mengenai penyesuaian taktik dari staf pelatih. Namun, Maresca juga memberikan pengecualian apabila kapten merupakan pemain yang mencetak gol sehingga ia tetap diperbolehkan merayakan keberhasilannya. Aturan tersebut sempat menjadi bahan candaan karena Haaland dikenal sebagai penyerang yang sangat produktif mencetak gol.
Maresca sebelumnya menjelaskan bahwa momen setelah terciptanya gol merupakan kesempatan penting untuk memberikan arahan kepada pemain di lapangan. Menurutnya, jeda singkat selama dua atau tiga menit dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki posisi, mengatur tekanan, atau melakukan penyesuaian strategi. Karena itu, kapten memiliki tanggung jawab menyampaikan instruksi pelatih kepada rekan-rekannya ketika pertandingan kembali dilanjutkan. Namun, keberadaan Haaland sebagai kapten menimbulkan situasi unik karena pemain asal Norwegia tersebut justru sering menjadi pencetak gol bagi timnya. Maresca sempat bercanda mengenai kemungkinan kesulitan menjalankan aturan tersebut apabila Haaland dipercaya memimpin tim. Situasi yang sebelumnya hanya menjadi pembahasan ringan akhirnya benar-benar terjadi dalam pertandingan menghadapi PSG.
Pada babak kedua, Haaland berhasil memperkecil ketertinggalan Manchester City melalui gol pada menit ke-53 setelah memanfaatkan umpan Iliman Ndiaye. Gol tersebut membuat skor berubah menjadi 1-3 dan membangkitkan semangat para pemain tuan rumah untuk mengejar ketertinggalan. Namun, setelah mencetak gol, Haaland tidak langsung menghampiri bangku cadangan untuk menerima arahan sebagaimana kebiasaan yang diterapkan Maresca. Ia memilih melakukan selebrasi singkat sebelum berbincang dengan Josko Gvardiol ketika kembali menuju area permainan. Tindakan tersebut kemudian dikaitkan dengan aturan unik sang pelatih, meskipun Haaland sebenarnya memiliki pengecualian karena menjadi pencetak gol. Kondisi Manchester City yang sedang tertinggal juga membuat kebutuhan untuk segera melanjutkan pertandingan lebih mendesak daripada melakukan komunikasi taktis yang panjang.
PSG kemudian kembali memperbesar keunggulan melalui gol Maghnes Akliouche pada menit ke-62 sehingga skor berubah menjadi 1-4. Manchester City tidak menyerah dan terus meningkatkan tekanan untuk mencari gol tambahan. Haaland kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-75 setelah menyelesaikan peluang dari umpan Ayyoub Bouaddi. Gol kedua tersebut membuat kedudukan menjadi 2-4 dan menjaga harapan tuan rumah untuk melakukan kebangkitan. Menariknya, Haaland kembali tidak menghampiri bangku cadangan setelah mencetak gol, melainkan langsung bergerak menuju garis tengah lapangan agar pertandingan dapat segera dilanjutkan. Keputusan tersebut memperlihatkan keinginannya memanfaatkan waktu tersisa untuk mengejar ketertinggalan, meskipun pada akhirnya Manchester City gagal mengubah hasil pertandingan.
Terlepas dari cerita mengenai aturan kapten, penampilan Haaland dalam pertandingan tersebut tetap menghasilkan pencapaian penting. Dua gol ke gawang PSG membuatnya mencapai koleksi 61 gol sepanjang karier di Liga Champions sekaligus melewati catatan Sergio Aguero sebagai pencetak gol terbanyak Manchester City dalam kompetisi tersebut. Haaland juga menunjukkan ketajamannya ketika tim berada dalam tekanan besar setelah tertinggal tiga gol pada babak pertama. Namun, kontribusi individualnya belum cukup untuk menghindarkan Manchester City dari kekalahan pertama di bawah kepemimpinan Enzo Maresca. Sang pelatih mengakui bahwa timnya tampil kurang baik pada babak pertama, tetapi menunjukkan peningkatan signifikan setelah jeda pertandingan. Maresca menilai Manchester City sebenarnya mampu menciptakan peluang yang cukup untuk memperoleh hasil lebih baik apabila penyelesaian akhir berjalan lebih efektif.
Kisah Haaland yang dianggap melanggar kebiasaan unik Maresca menjadi salah satu sisi menarik dari pertandingan Manchester City melawan PSG. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa instruksi taktis pelatih terkadang harus disesuaikan dengan keadaan pertandingan, terutama ketika tim sedang mengejar ketertinggalan. Aturan mengenai kapten yang harus menghampiri bangku cadangan bukan merupakan ketentuan resmi pertandingan, melainkan bagian dari metode komunikasi internal yang digunakan Maresca. Karena Haaland mencetak sendiri kedua gol Manchester City, tindakannya juga tidak dapat dipandang sebagai pelanggaran mutlak terhadap aturan tersebut. Manchester City kini harus mengalihkan perhatian kepada pertandingan berikutnya dan memperbaiki kelemahan yang terlihat ketika menghadapi PSG. Sementara itu, Haaland kembali membuktikan ketajamannya sekaligus menghadirkan cerita menarik mengenai hubungan antara kebiasaan pelatih, tanggung jawab kapten, dan situasi pertandingan yang penuh tekanan.