Jakarta, 29 Oktober 2026 – PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 dengan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,41 triliun. Perolehan tersebut meningkat sekitar 216,3 persen dibandingkan periode Januari hingga September 2025 yang mencapai Rp1,39 triliun. Kenaikan laba didukung pertumbuhan pendapatan usaha, penguatan harga jual rata-rata batu bara, serta pengendalian biaya operasional yang dilakukan secara konsisten. Sepanjang kuartal III-2026, pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp35,20 triliun atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan Rp31,33 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut memperlihatkan kemampuan perusahaan memanfaatkan perbaikan kondisi pasar batu bara di tengah berbagai tantangan operasional yang masih berlangsung. Penguatan profitabilitas juga menjadi perhatian karena terjadi ketika volume penjualan secara kumulatif justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menjelaskan bahwa pertumbuhan kinerja perusahaan didukung oleh pemulihan aktivitas produksi pada kuartal ketiga, optimalisasi komposisi penjualan, serta disiplin pengelolaan biaya di seluruh kegiatan operasional. Perseroan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara untuk meningkatkan pendapatan tanpa mengabaikan efisiensi dalam proses produksi dan distribusi. Harga jual rata-rata atau average selling price batu bara PTBA meningkat sekitar 18 persen secara tahunan sepanjang Januari hingga September 2026. Kenaikan tersebut sejalan dengan penguatan indeks harga batu bara Newcastle sebesar 25 persen dan indeks Indonesian Coal Index 3 atau ICI-3 sebesar 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan harga jual menjadi faktor penting yang mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sekitar 4 persen menjadi 32,23 juta ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan perusahaan tidak hanya dipengaruhi jumlah komoditas yang dipasarkan, tetapi juga perubahan harga dan strategi pengelolaan pasar yang dijalankan perseroan.
Dari sisi profitabilitas, PTBA mencatat peningkatan laba kotor sebesar 103,8 persen menjadi Rp7,27 triliun dibandingkan Rp3,57 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Laba usaha perseroan juga mengalami kenaikan lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp5,11 triliun dari sebelumnya Rp1,60 triliun. Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA mencapai Rp7,19 triliun, meningkat sekitar 102,2 persen dibandingkan Rp3,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut turut tercermin dalam margin laba bersih yang berada di kisaran 13 persen serta margin EBITDA sekitar 20 persen hingga akhir September 2026. Kenaikan laba yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan memperlihatkan adanya perbaikan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari kegiatan usahanya. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator penting dalam menilai efektivitas strategi efisiensi dan pengendalian biaya yang diterapkan manajemen sepanjang tahun berjalan.
Pengelolaan beban usaha menjadi faktor lain yang mendukung peningkatan kinerja PTBA di tengah tekanan biaya energi dan kegiatan pertambangan. Beban pokok pendapatan perseroan hanya meningkat sekitar 0,6 persen menjadi Rp27,94 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai sekitar 12 persen. Kondisi tersebut terjadi meskipun harga bahan bakar mengalami kenaikan sekitar 36 persen secara tahunan dan memberikan tekanan terhadap biaya penambangan maupun pengangkutan batu bara. Untuk menjaga efisiensi, perusahaan melakukan penyesuaian kegiatan operasional dan berhasil menurunkan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Penurunan rasio tersebut menunjukkan berkurangnya volume material penutup yang harus dipindahkan untuk menghasilkan setiap satuan batu bara, sehingga dapat membantu mengendalikan biaya produksi. Selain itu, biaya keuangan perusahaan mengalami penurunan sekitar 45 persen menjadi Rp136,52 miliar, sejalan dengan berkurangnya beban bunga setelah penyelesaian fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025.
Dari aspek operasional, aktivitas produksi PTBA mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal III-2026 setelah menghadapi tekanan pada periode sebelumnya. Produksi batu bara meningkat sekitar 17 persen dibandingkan kuartal kedua, sementara volume penjualan mengalami pertumbuhan sekitar 2 persen secara kuartalan. Harga jual rata-rata juga meningkat 7 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sehingga memberikan kontribusi tambahan terhadap penguatan kinerja perusahaan. Meski demikian, secara kumulatif produksi batu bara selama Januari hingga September 2026 tercatat sebesar 34,41 juta ton, turun sekitar 4 persen dibandingkan 35,90 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Volume angkutan batu bara juga mengalami penurunan sekitar 10 persen menjadi 27,08 juta ton dari sebelumnya 30,02 juta ton. Perbedaan antara pemulihan kuartalan dan penurunan secara kumulatif menunjukkan bahwa perusahaan masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan aktivitas produksi dan distribusi secara konsisten hingga akhir tahun. Manajemen berupaya menjaga keseimbangan antara peningkatan volume operasional dan efisiensi agar pertumbuhan usaha tetap memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas.
Komposisi penjualan PTBA sepanjang sembilan bulan pertama 2026 memperlihatkan peran pasar domestik dan ekspor yang relatif berimbang dalam mendukung kegiatan usaha perusahaan. Pasar dalam negeri menyerap sekitar 16,62 juta ton batu bara atau setara dengan 52 persen dari total volume penjualan perseroan. Sementara itu, penjualan ekspor mencapai 15,61 juta ton atau sekitar 48 persen dari keseluruhan volume yang dipasarkan. Lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar perusahaan meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand. Keberadaan pasar ekspor memberikan kesempatan bagi PTBA untuk memanfaatkan perkembangan harga batu bara internasional, sedangkan permintaan domestik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan penjualan. Dari sisi neraca keuangan, total aset perusahaan mencapai Rp51,55 triliun per 30 September 2026 atau meningkat sekitar 17 persen dibandingkan posisi akhir 2025. Total liabilitas tercatat sebesar Rp24,31 triliun, sementara ekuitas meningkat menjadi Rp27,24 triliun dan arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp4,44 triliun.
Memasuki sisa tahun 2026, PTBA menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja sekaligus memperkuat daya saing perusahaan dalam industri energi. Perseroan menetapkan target produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton dan volume penjualan mencapai 49,51 juta ton sepanjang tahun, dengan target angkutan sekitar 41 juta ton. Untuk mendukung pencapaian tersebut, perusahaan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp3,64 triliun yang diarahkan bagi kebutuhan pengembangan usaha dan penguatan infrastruktur pendukung. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pengembangan infrastruktur logistik Tanjung Enim-Kramasan yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan efisiensi pengangkutan batu bara. Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menyampaikan bahwa perusahaan juga akan melanjutkan optimalisasi rantai pasok, penguatan efisiensi operasional, serta pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara. Strategi diversifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat fundamental bisnis sekaligus menghadapi perubahan kebutuhan energi dalam jangka panjang. Dengan laba bersih yang telah mencapai Rp4,41 triliun hingga September 2026, perkembangan kinerja PTBA pada kuartal terakhir akan menjadi perhatian dalam menilai kemampuan perusahaan memenuhi target operasional, mempertahankan profitabilitas, dan menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.