Beograd, 28 September 2026 –
Aleksandar Vucic resmi mengundurkan diri dari jabatan Presiden Serbia pada Minggu (27/9/2026), sekitar tujuh bulan sebelum masa jabatan keduanya berakhir. Vucic menandatangani surat pengunduran diri setelah menyampaikan pidato kepada publik di Istana Kepresidenan di Beograd. Ia mengatakan keputusan tersebut diambil agar dapat mengikuti pemilihan parlemen mendatang sebagai warga biasa. Pengunduran diri itu sekaligus membuka jalan bagi penyelenggaraan pemilihan presiden lebih awal di Serbia.
Vucic telah menjabat sebagai Presiden Serbia sejak 2017 dan kembali terpilih untuk periode kedua pada 2022. Masa jabatan keduanya sebenarnya masih berlangsung hingga 2027 dan konstitusi Serbia tidak memperbolehkannya maju untuk periode ketiga berturut-turut. Sebelum menjadi presiden, Vucic juga pernah menjabat sebagai perdana menteri dan telah menjadi salah satu tokoh utama dalam politik Serbia selama lebih dari satu dekade. Pengunduran dirinya kini mengubah peta politik menjelang pemilihan parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober 2026.
Setelah meninggalkan kursi presiden, Vucic akan terlibat dalam pemilihan parlemen dan menjadi kandidat untuk jabatan perdana menteri dari kubu Partai Progresif Serbia atau SNS. Ia mengatakan ingin mengikuti kontestasi sebagai warga biasa dan memperoleh mandat melalui pemilihan parlemen. Langkah tersebut berarti Vucic tidak sepenuhnya meninggalkan arena politik Serbia setelah mengakhiri masa kepresidenannya. Hasil pemilu Oktober akan menentukan susunan pemerintahan berikutnya serta siapa yang memperoleh dukungan untuk memimpin kabinet.
Pengunduran diri Vucic juga terjadi setelah Serbia menghadapi gelombang demonstrasi yang dipimpin mahasiswa selama hampir dua tahun. Aksi tersebut bermula setelah runtuhnya kanopi di stasiun kereta Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang. Tragedi itu memicu tuntutan penyelidikan yang transparan dan berkembang menjadi desakan untuk menggelar pemilihan parlemen lebih awal. Pemerintah akhirnya menetapkan pemilu parlemen dipercepat pada 25 Oktober setelah tekanan politik berlangsung berkepanjangan.
Sesuai ketentuan Serbia, Ketua Majelis Nasional Ana Brnabic mengambil alih tugas sebagai penjabat presiden setelah Vucic mengundurkan diri. Vucic secara resmi menyerahkan tugas kepresidenan kepada Brnabic pada Senin (28/9/2026). Brnabic dapat menjalankan fungsi presiden sementara paling lama tiga bulan sampai presiden baru terpilih. Dalam periode tersebut, ia memiliki sejumlah kewenangan konstitusional, termasuk mewakili negara dan menjalankan tugas kepresidenan yang diperbolehkan undang-undang.
Serbia selanjutnya harus menggelar pemilihan presiden paling lambat tiga bulan setelah berakhirnya masa jabatan Vucic. Berdasarkan perhitungan ketentuan pemilu, pemungutan suara presiden harus berlangsung paling lambat 27 Desember 2026. Pemilihan tersebut akan menentukan pengganti Vucic setelah hampir satu dekade kepemimpinannya sebagai presiden. Pada saat bersamaan, perhatian politik dalam beberapa pekan mendatang akan lebih dahulu tertuju pada pemilihan parlemen 25 Oktober.
Menjelang pengunduran dirinya, Vucic juga menggunakan kewenangan kepresidenan untuk memberikan pengampunan atau abolisi kepada 49 orang. Sebanyak 23 di antaranya disebut berkaitan dengan berbagai peristiwa selama gelombang demonstrasi sekitar satu setengah tahun terakhir. Setelah menyerahkan jabatan kepada Brnabic, Vucic kini memasuki fase baru sebagai peserta dalam kontestasi parlemen. Serbia pun menghadapi dua agenda politik besar dalam waktu berdekatan, yakni pemilihan parlemen pada Oktober dan pemilihan presiden yang harus diselenggarakan sebelum akhir Desember 2026.